Pages

03 June 2012

Filsafat Ilmu (ILMU)


BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan baik secara substansial maupun historis. Kelahiran suatu ilmu tidak dapat dipisahkan dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Dari sinilah kita mengetahui bahwa ilmu memiliki peran penting dalam filsafat.

Ilmu di dunia ini beraneka ragam dan tidak terbatas di suatu tempat. Dengan banyak dan luasnya ilmu itu, tentu saja menjadikan ilmu memiliki berbagai karakteristik dan manfaat bagi kita. Oleh karena itu, kita akan membahas lebih jauh mengenai ilmu dalam makalah ini.


1.2 Maksud dan Tujuan

Ilmu merupakan pengetahuan dan pemahaman yang perlu dikembangkan manusia. Dengan ilmu, manusia dapat mengenal lingkungan sekitarnya lebih baik. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memahami dan mempelajari ilmu secara mendasar tetapi tetap sistematis.


BAB II

PEMBAHASAN



2.1 Sekilas Mengenai Ilmu

Kata “ilmu” memiliki definisi yang beraneka ragam. Setidaknya kamus Bahasa Indonesia dan Encyclopedia Americana memiliki definisi ilmu yang berbeda. Dalam kamus Bahasa Indonesia, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang tersusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang itu (Kamus Bahasa Indonesia, 1998). Dalam Encyclopedia Americana, ilmu adalah pengetahuan yang bersifat positif dan sistematis.

Selain dari kamus dan ensiklopedi, kata “ilmu” juga memiliki banyak arti dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Arab, ilmu adalah ‘alima, ya’lamu, ‘ilman yang berarti mengetahui, memahami dan mengerti benar-benar. Dalam bahasa Inggris, ilmu disebut Science. Dalam bahasa Latin, ilmu berasal dari kata Scientia (pengetahuan) atau Scire (mengetahui), sedangkan dalam bahasa Yunani, ilmu adalah Episteme (pengetahuan).

Dapat kita simpulkan bahwa ilmu adalah alat yang digunakan untuk menjelaskan fenomena (gejala-gejala tertentu) agar manusia lebih mengetahui dan memahami sesuatu. Ilmu juga merupakan metode berpikir secara objektif untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap gejala dan fakta. Penemuan ilmu membutuhkan adanya riset untuk menjelaskan fenomena. Jadi, ilmu, fenomena, dan riset merupakan hal yang saling berkaitan.


2.2 Karakteristik Ilmu

Ilmu membutuhkan karakteristik (kriteria) khusus untuk dipenuhi para peneliti agar ilmu yang ditemukannya dapat diterima masyarakat ilmiah (scientific community). Karakteristik yang perlu dimiliki oleh ilmu adalah:

1. Benar.

2. Relatif (nisbi).

3. Konsisten (ajeg).

4. Universal.


2.2.1 Benar

Kebenaran ilmiah bersifat normatif, yaitu memiliki kelayakan normatif sesuai dengan norma logika, etika, estetika, dan akumulasi kebenaran-kebenaran yang telah dianut sebelumnya.

Logika sendiri memenuhi alur pikir deduktif-induktif dengan melalui verifikasi dan/atau validasi (positivism dan post-positivism). Verifikasi merupakan uji statistik mengenai kasus probabilistik sedangkan validasi merupakan pembuktian matematika mengenai kasus deterministik. Kedua hal tersebut dicapai dengan pengujian atau pembuktian hipotesis.

Ilmu adalah alat untuk menjelaskan fenomena. Fenomena adalah keterlibatan aneka faktor yang berinteraksi (saling berpengaruh) dan berinterrelasi (saling berhubungan) satu dengan lainnya. Ilmu berfungsi membeberkan secara jelas bagaimana mekanisme pengaruh dan/atau hubungan aneka faktor tersebut dalam menghasilkan suatu produk atau peristiwa, juga sampai sejauh mana pengaruh/hubungan antar faktor itu perlu dijelaskan melalui verifikasi/validasi.


2.2.2 Relatif (nisbi)

Kebenaran ilmu bersifat relatif (nisbi), artinya kita diperkenankan berbuat salah tapi harus sesuai dengan ukuran yang dianut oleh para ilmiawan, yaitu diukur dari hasil pengujian statistik (verifikasi) dan/atau pembuktian matematika (validasi).

Penelitian yang kita lakukan harus memiliki tingkat kebenaran (signifikansi) di atas 95% dan tingkat kesalahan kurang dari 5%. Oleh karena itu, kita memerlukan adanya verifikasi dan/atau validasi untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat diterima komunitas ilmiah. Dengan adanya verifikasi dan/atau validasi itulah, ilmu menjadi lebih dipercaya (powerful). Akan tetapi, kita perlu mengetahui bahwa penelitian yang kita lakukan tidak akan pernah mencapai tingkat kebenaran hingga 100%. Hal ini karena hanya kebenaran dari Allah swt. yang memiliki kebenaran mutlak.


2.2.3 Konsisten (ajeg)

Ilmu bersifat konsisten atau ajeg, artinya tidak goyah atau tidak berubah-ubah menurut situasi dan kondisi tertentu. Siapapun dengan metode yang sama mengerjakan pendataan, analisis, dan uji atau pembuktian hipotesis, hasilnya harus sama dan tidak tergantung subjektivitas tiap orang. Sama di sini artinya tidak harus persis tetapi tingkat perbedaanya tidak terlalu jauh. Oleh karena itu, semua orang dengan metode yang sama harus memperoleh hasil yang sama. Hal ini membuktikan bila ada seseorang memperoleh hasil yang berbeda maka orang itu dianggap salah (diukur dari banyak orang yang telah diuji benar melakukannya).


2.2.4 Universal

Ilmu bersifat universal artinya tidak tergantung situasi dan kondisi yang kompromis, tidak mengenal warna kulit, keluarga, kepentingan golongan, partai, dan sebagainya. Bila tidak demikian, hal itu bukanlah ilmu melainkan ilmu-ilmuan dan tidak dapat diterima komunitas ilmiah.

Kebenaran yang hendak kita capai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contohnya, semua segitiga bersudut 180ยบ. Oleh karena itu, universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia.


2.3 Landasan Kebenaran Ilmu

Untuk mendapatkan ilmu, kita memerlukan adanya landasan kebenaran ilmiah. Landasan kebenaran inilah yang berkaitan dengan nilai-nilai kebenaran ilmiah, yaitu:

1. Dalil (proposisi), yaitu pernyataan berisi unsur kebenaran yang tetap/konstan dan memiliki nilai kebenaran yang pasti.

2. Postulat, yaitu sesuatu yang disepakati sebagai suatu kebenaran untuk mendasari penalaran logis. Postulat merupakan sesuatu yang diasumsikan tanpa perlu adanya pembuktian, terutama saat digunakan sebagai dasar sebuah argumen.

3. Aksioma, yaitu kebenaran/prinsip yang dikenal secara universal dan terbukti dengan sendirinya. Aksioma disebut juga sebagai maxim.

4. Premis, yaitu suatu pernyataan yang diasumsikan sebagai dasar suatu argumen dan dari sinilah kesimpulan dapat ditarik.

5. Hipotesis, yaitu pernyataan untuk memverifikasi atau membuktikan.

6. Silogisme, yaitu suatu bentuk penalaran deduktif yang terdiri dari premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.


2.4 Cara Memperoleh Ilmu

Manusia diciptakan oleh Allah swt. dengan sempurna, yaitu dilengkapi dengan seperangkat akal dan pikiran. Dengan akal dan pikiran inilah, manusia mendapatkan ilmu, seperti ilmu pengetahuan sosial, ilmu pertanian, ilmu pendidikan, ilmu kesehatan, dan lain-lain. Dengan akal dan pikiran juga, kita dapat melakukan berbagai cara untuk memperoleh ilmu. Cara-cara yang dapat kita lakukan dapat berupa:

1. Melakukan riset.

2. Mengikuti proses ilmiah (scientific process).

3. Merumuskan hipotesis dengan cara lebih memahami fenomena.

4. Memperoleh kesimpulan ilmiah dari fenomena.

Dalam melakukan suatu proses ilmiah (scientific process), kita perlu mengetahui langkah-langkah pentingnya, yaitu:

1. Identifikasi, yaitu kegiatan mengenal objek yang akan diteliti.

2. Deskripsi, yaitu kegiatan menjabarkan ciri-ciri (karakteristik) objek yang akan diteliti.

3. Klasifikasi, rekonstruksi, analisis (kualitatif dan kuantitatif), dan interpretasi.

4. Hipotesis dengan disertai adanya verifikasi dan validasi.

5. Prediksi dibantu dengan simulasi.

6. Implementasi (aplikasi).


2.5 Manfaat dan Peran Ilmu

Ilmu sangat penting bagi kita karena ilmu memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Adapun beberapa manfaat ilmu bagi kehidupan kita, yaitu:

1. Dapat mengetahui suatu hal dari yang sebelumnya tidak tahu.

2. Dapat melakukan banyak hal dalam berbagai aspek kehidupan.

3. Dapat menjalani kehidupan dengan nyaman dan aman.

Dengan ilmu, kita dapat senantiasa mencari tahu dan menelaah bagaimana cara hidup yang lebih baik dari sebelumnya, menemukan sesuatu untuk menjawab setiap keingintahuan kita, dan menggunakan penemuan-penemuan untuk membantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan ilmu pula manusia menjadi lebih aktif memfungsikan akal untuk senantiasa mengembangkan ilmu yang diperoleh dan yang dipelajarinya.


BAB III

KESIMPULAN


Ilmu merupakan suatu alat dan bentuk pengetahuan untuk menjelaskan fenomena. Ilmu memilliki banyak karakteristik, di antaranya adalah ilmu bersifat benar, relatif (nisbi), konsisten (ajeg), dan universal. Banyaknya karakteristik ilmu membuat kita memerlukan bantuan akal dan pikiran serta proses ilmiah (scientific process) dalam mempelajari ilmu. Dengan mempelajari ilmu, kita akan banyak memperoleh manfaat seperti mengetahui berbagai hal baru, membantu kegiatan sehari-hari, dan dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

Hirnawan, Febri. 2007. Riset, Bergulirlah Proses Ilmiah. Bandung: CV. Buana Mekar.

http://www.anneahira.com/ilmu/manfaat-ilmu.htm (28 November 2009. 07:39)

Ibrahim, Slamet. 2008. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Didownload dari http://download.fa.itb.ac.id/filenya/Handout/Kuliah/Filsafat/Ilmu/ FILSAFAT//ILMU/.pdf (27 November 2009. 12:54)

0 comments:

Post a Comment